Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Tuesday, May 17, 2011

skripsi Pengaruh Eksperimen Sachs pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009 download

/ On : 8:22 PM/ Thank you for visiting my small blog here.
BAB I

PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan modal utama dalam mencerdaskan dan mengembangkan kemampuan generasi bangsa sebagai penerus pembangunan. Maju mundurnya suatu Negara dalam sektor pembangunan sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya Sumber Daya Manusia (SDM) dalam diri generasi bangsa, terutama dalam bidang pendidikan. Semakin maju pendidikan suatu bangsa atau negara, maka semakin baik nilai pendidikan dalam peningkatan mutu kelulusan atau hasil dari suatu pendidikan.

Demi tercapainya hal tersebut, guru memerlukan bermacam-macam sarana yang ikut menunjang mutu atau hasil dari pendidikan. Hal ini sangat penting, sebab peningkatan mutu pendidikan tidak mungkin tercapai tanpa sarana dan fasilitas pendukung. Pekerjaan guru merupakan pekerjaan profesional oleh karena itu diperlukan kemampuan dan kewenangan, salah satu kewenangan itu adalah sejauh mana guru tersebut menguasai metodologi dan media pendidikan demi tercapainya tujuan atau hasil dari pendidikan. Penggunaan metode eksperimen (percobaan) dalam proses belajar mengajar IPA khususnya biologi sangat bermanfaat karena penggunaan metode ini dapat memperbesar perhatian siswa, serta memberikan pengalaman langsung, yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan membangkitkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.

Newbery (1985) menyebutkan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari metode



praktikum, yaitu:

1) Pengetahuan di pelajari melalui kontak secara langsung dengan alat- alat dan bahan;

2) Kebebasan individu digunakan sebagai dasar dalam belajar;

3) Merujuk minat dalam mengantisipasi dan menggunakan kata ungkapan sebagai objek;

4) Mengembangkan karakter intelektual dan moral siswa;

5) Memupuk sikap untuk melakukan penelitian dalam memecahkan masalah.



Mata pelajaran IPA, khususnya biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat dekat dengan alam dan kehidupan, yang didalamnya alam dan kehidupan tersimpanlah berjuta rahasia. Karena itulah mata pelajaran ini banyak berorientasi pada penumbuhan sikap ilmiah (scientific attitude) dan perluasan wawasan ilmiah (IPA) serta pengembangan Keterampilan proses. Harlen, W, (1983) mengatakan bahwa: “Scientific attitude mengandung dua makna yaitu attitude to science dan attitude of science, attitude yang pertama mengacu pada sikap terhadap IPA dan yang kedua mengacu pada sikap yang melekat setelah belajar IPA”.

Berdasarkan pendapat diatas, maka untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap mata pelajaran IPA sangat dipengaruhi oleh sikap siswa terhadap mata pelajaran IPA, dan ini berpengaruh pula pada keberhasilan kegiatan pembelajaran.

Penumbuhan sikap ilmiah dan sikap siswa terhadap IPA dapat dikembangkan dan ditingkatkan dengan menggunakan metode praktikum atau percobaan dalam proses belajar IPA, yaitu dengan memberlakukan siswa seperti saintis muda di kelas untuk maksud inilah penulis lebih memilih doing science dari pada listening science knowledge dengan kata lain peningkatan penumbuhan sikap siswa terhadap IPA dapat berlangsung jika IPA disajikan guru dengan mengurangi metode ceramah dan meningkatkan peran fasilitator melalui praktikum, hingga mendorong siswa untuk menguasai suatu materi pelajaran dan keahlian. Hal ini sesuai dengan keputusan ( Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. No:134/0/1983 tentang organisasi dan tata kerja lembaga pendidikan tanggal 05 Maret 1983) memutuskan bahwa “Praktikum merupakan suatu metode mendidik untuk belajar dan memperaktekkan segala aktifitas dalam proses mengajar untuk menguasai suatu keahlian”.

Phopham dan Baker (1992 : 112) menyatakan “Seorang guru eksperimen akan melakukan eksperimen di kelasnya guna menguji hipotesis dalam lingkungan terkontrol guna membandingkan kebaikan dari dua variabel instruksional, hingga ia peroleh variabel yang tepat dalam pengajarannya”.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis ingin menjadi seorang guru eksperimen dalam mata pelajaran biologi pada materi fotosintesis dengan melakukan sebuah percobaan ulang yang pernah dibuktikan oleh seorang ilmuwan yang bernama Sachs pada tahun 1860, tentang uji adanya fotosintesis pada daun yang di tutupi dan yang tidak di tutupi dari sinar matahari. Hingga pada akhirnya penulis menyusunnya menjadi sebuah judul “Pengaruh Eksperimen Sachs pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009”.



1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Adakah Pengaruh Eksperimen Sachs Pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009?

2. Seberapa besar Pengaruh Eksprimen Sachs pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009?



1.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui adakah Pengaruh Eksperimen Sachs pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008 – 2009.

2. Untuk mengetahui seberapa besar Pengaruh Eksperimen Sachs pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009.



1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi guru mengetahui sejauh mana manfaat eksperimen dalam meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga menjadi masukan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

2. Bagi sekolah, hasil penelitian ini di harapkan menjadi informasi tentang pentingnya penyediaan fasilitas LAB dalam membantu guru saat eksperimen.

3. Bagi rekan-rekan mahasiswa agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh eksperimen Sachs dalam peningkatan dan perbaikan mutu pendidikan di masa yang akan datang.



1.5 Anggapan Dasar

Pelaksanaan penelitian ini di dasari atas asumsi yang mengatakan bahwa:

1. Guru sebagai pelaksanaan eksperimen sangat berperan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan pengambilan keputusan instruksional.

2. Kemampuan dan profesionalisme guru dalam eksperimen sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran.



1.6 Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.6.1 Hipotesis Nihil (Ho)

Tidak ada Pengaruh Eksperimen Sachs pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009

1.6.2 Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada Pengaruh Eksperimen Sachs pada Materi Fotosintesis Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009.











































BAB II

LANDASAN TEORITIS



2.1 Pengertian Pendidikan

Pendidikan pada hakikatnya merupakan sebagai usaha manusia dalam memanusiakan manusia lainnya agar mampu membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat yang berbudaya. Poerba Kawatja dan Harahap (1990:210) mengatakan bahwa “ Pendidikan ialah usaha melaksanakan atau memberi pengetahuan kepada manusia lainnya dengan mengenakan pengaruh cara dan alat demi perkembangannya kearah kedewasaan “.

Dilihat dari hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan pendidikan, maka pendidikan sangat erat hubungannya dengan tenaga kependidikan. Guru sebagai pendidik hendaknya senantiasa berusaha menjadi guru yang profesional dalam bidangnya masing-masing, ia harus mampu membekali dirinya dengan pengetahuan-pengetahuan, baik dalam penguasaan bahan ajaran, pemakaian teknik yang sesuai serta penggunaan alat dalam pendidikan, sehingga guru sebagai pendidik benar-benar mampu mendidik anak didiknya. Keterampilan dalam segala hal ini dapat diperoleh guru dari pendidikan dan latihan-latihan khusus dalam bidangnya masing-masing. Disamping itu guru juga bisa memanfaatkan usaha yang dilakukan pemerintah dalam peningkatkan kemampuan guru dengan mengikuti penataran-penataran dan pelatihan-pelatihan demi meningkatnya mutu pendidikan. Sekedar memperjelas, berikut ini penulis kutip beberapa pengertian pendidikan menurut para ahli yang penulis angkat dari sebuah karya Zahara Idris dan Lisa Jamal dengan judul Pengantar Pendidikan (1991:7) sebagai berikut :

1. Menurut Prof. Rechey. Dalam buku “Planning For Teaching an Introduction“. Istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warna terhadap keadaan masyarakat yang baru (generasi muda) sebagai penerus bangsa yang semestinya bertanggung jawab. Pendidikan adalah suatu aktifitas sosial dalam masyarakat modern. Fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi antara lembaga pendidikan formal dengan proses pendidikan informal diluar sekolah.



2. Menurut “ BRUBACHER “ dalam bukunya “ Modern Fhilosophis Of Education“. Pendidikan merupakan sebagai proses timbal balik antar pribadi manusia dalam penyesuaiannya dengan alam dan teman. Pendidikan merupakan pola perkembangan yang terorganisasi dari semua potensi manusia, moral intelektual dan jasmani (panca indra) yang digunakan dalam kepribadian individunya dan kegunaan masyarakatnya demi tercapainya tujuan hidup, dengan menggunakan potensi-potesi (kemampuan) yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, alat (media) yang digunakan dan dikelola dengan sedemiakian rupa oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan hidup.



3. Menurut “ CARTER V. GOOD “ dalam “Dictionary of Education“. Bahwa seni praktek atau potensi merupakan ilmu yang sistimatis dalam pengajaran serta berhubungan dengan prinsip-prinsip dan metode-metode mengajar dalam membimbing murid, dalam arti luas diganti dengan istilah pendidikan. Dengan seni manusia akan mampu membuat dan memahami ilmu pengetahuan yang diwarisi masa lampau oleh setiap generasi bangsa.



4. Crow an Crow mengartikan pendidikan. Proses perolehan pengalaman atau informasi sebagai hasil dari proses mengikuti kegiatan pendidikan. Menurut mereka, pendidikan mencakup pengalaman, pengertian dan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang diperoleh dari proses pertumbuhan menuju perkembangan kedewasaan.

Dari penjelasan pengertian pendidikan diatas bisa dilihat bahwa pendidikan merupakan suatu proses pengembangan kemampuan melalui bahan ajaran yang terencana. Melalui serangkaian strategi pendidikan diarahkkan agar menjadi pembentukan dan pengembangan manusia sebagai makhluk filosofis individu, sosial, susila dan religius.

a) Pengembangan manusia sebagai makhluk Filosofis

Manusia disebut “Homo Sapiens“. Artinya makhluuk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia selalu cendrung ingin mengetahui segala sesuatu di sekelilingnya, yang belum diketahuinya. Berasal dari rasa ingin tahu maka timbul ilmu pengetahuan.

Pengetahuan merupakan salah satu bagian dari kebudayaan, lalu karena hasrat manusia untuk mengetahui sesuatu maka timbul ilmu filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata philos dan Sophia artinya gemar dan suka berpikir secara mendalam untuk mencapai kebijaksanaan atau pengetahuan. Pengetahuaan dimulai dari rasa ingin tahu, sedangkan kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu. Akan tetapi, filsafat dimulai dari keduanya. Filsafat bersifat umum dan menyeluruh, serta didasari oleh insting, logika, dan pengalaman.

Dengan kata lain, filsafat ialah ilmu yang menyelidiki sesuatu secara mendalam tentang ketuhanan, alam dan manusia, sehingga menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan. Melalui pendidikan atau dengan belajarlah manusia menjadi makhluk yang berilmu pengetahuan.



b) Pengembangan manusia sebagai makhluk individu

Manusia sebagai makhluk individu memiliki jiwa dan raga yang dalam perkembangannya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam memberikan pendidikan kepada individu hendaklah para pendidik memperhatikan perkembangan kognitif,

afektif, dan psikomotor. Karenanya para pendidik hendaklah menyeimbangkan antara ketiga aspek tadi. Dengan demikian, peserta didik mampu berdiri sendiri dengan kata lain, Pendidik berarti memberikan bantuan agar peserta didik mampu menolong diri sendiri. Untuk dapat menolong diri sendiri, anak didik perlu mendapatkan berbagai pengalaman didalam pengembangan konsep, prinsip, genetalisasi, intelek, inisiatif, kreatif, kehendak, emosi / perasaan, tanggung jawab, Keterampilan dan lain-lain.



c) Pengembangan manusia sebagai makhluk susila

Ilmu kesusilaan merupakan sebuah cabang ilmu dari filsafat yang membawa manusia untuk bertingkah laku luhur dan mulia. Ilmu kesusilaan berguna dalam mengetahui karakter manusia, menimbang, antara yang baik dan yang buruk antara yang terpuji dan tercela, menjaga keseimbangan hidup manusia dalam masyarakat, sehingga manusia itu dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah yang ada dalam masyarakat tempat ia hidup. Kihajar Dewantara dalam Lisma Jamal (1991:23) mengatakan bahwa “Kesusilaan menunjukkan sifat hidup lahir manusia yang indah, sedangkan adap dan keluhuran budi menunjukkan sifat batin manusia, seperti cinta kasih dan kesetiaan“. Berdasarkan kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikanlah yang berfungsi dalam mengembangkan peserta didik menjadi manusia susila yang mendukung nilai-nilai, norma-norma, dan kaidah-kaidah dalam suatu masyarakat.



d) Pengembangan manusia sebagai makhluk sosial

Menurut M.j Lange Veld (1995) “Sifat hakikat manusia adalah makhluk sosial, individualitas, dan moralitas." Sifat sosialitas menjadi dasar dan tujuan setiap anak dan kelompoknya, setiap anak ingin hidup terus menerus didalam kelompoknya. Dengan bermacam-macam variasi anak atau seseorang terlibat dalam kehidupan sosial pada setiap waktu.

Disamping sebagai makhluk individu (pribadi), manusia juga sebagai makhluk

sosial. Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya, manusia tidak dapat mencapai apa yang di inginkan tanpa adanya bantuan dari manusia lain. Sebab pertumbuhan dan perkembangannya kearah kepribadian juga sangat tergantung pada manusia lain.



e) Pengembangan manusia sebagai makhluk religius

Pengembangan manusia sangat erat hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai makhluk tuhan manusia mempunyai nafsu-nafsu, nafsu yang dimiliki manusia memiliki nafsu yang menuju kepada kejahatan dan ada juga yang membawa kepada kebaikan. Oleh karenanya manusia memerlukan pendidikan, supaya dalam kehidupannya berkembang nafsu yang baik, karna pada kudratnya manusia sebagai makhluk yang sewaktu dilahirkan berada dalam keadaan lemah baik dari segi jasmani dan rohani, makanya manusia memerlukan bantuan manusia dewasa lainnya. M. Ngalim Purwanto. MP (1994:83) mengatakan “Jika bayi manusia yang baru dilahirkan tidak mendapatkan bantuan dari manusia dewasa lainnya, tidak belajar dan diajari, niscaya binasalah ia”.

Dengan demikian jelas bahwa manusia tidak mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak di didik/diajar oleh manusia lain, karena itulah pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana dalam membina dan memberi pertolongan kepada anak sangat berperan dalam membantu anak supaya dapat berdiri sendiri dalam hidup.



2.2 Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah usaha perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dengan respon. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar merupakan perubahan prilaku pada orang yang belajar. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan sesuatu perubahan dalam tingkah lakunya. Asri Budiningsih dalam bukunya Belajar Pembelajaran (2004:20) mengatakan bahwa “Belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi dalam kegiatan pembelajaran“.

Kesungguhan dan keyakinan dalam belajar memegang peranan yang penting dalam pencapaian hasil dari suatu proses pendidikan, kegiatan belajar mengajar dapat diterapkan melalui pendekatan antara sistem dengan beberapa komponen, seperti siswa, guru, bahan pelajaran, kurikulum, sarana dan prasarana.

Dalam proses belajar mengajar guru jangan hanya berperan dalam menentukan apa yang akan dipelajari, melainkan guru harus mampu menentukkan bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman anak. Hasil atau pengalaman dari belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi secara aktif lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan. Pembelajaran merupakan upaya guru dalam mengoperasionalkan kurikulum agar dapat dipahami oleh siswa demi meningkatkan prilaku kognitif, afektif dan psikomotorik. Kegiatan pembelajaran merupakan sebuah kegiatan yang terdiri atas beberapa komponen-komponen seperti: Tujuan, bahan, metode, alat, serta penilaian. Depdikbud (1999:1) menguraikan pengertian pembelajaran “Sebagai suatu proses komplek yang dilakukan untuk membantu siswa belajar dalam merubah prilakunya”.

Perubahan sikap atau (atitude) dalam diri siswa merupakan hasil dari proses belajar mengajar yang telah direncanakan sesuai dengan kondisi dan lingkungan belajar. GAGNE mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) sesuai dengan tujuan belajar yang ingin dicapai. GAGNE (dalam Amirul Hadi, (1992:58) mengelompokkannya dalam delapan macam kemampuan hasil belajar, yang kemudian disederhanakan menjadi lima macam kemampuan manusia, yang merupakan hasil belajar dari sekian macam kondisi belajar (atau sistem lingkungan belajar) demi tercapainya hasil dari pembelajaran. Kelima macam kemampuan hasil belajar tersebut adalah :

1. Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingkungan skolastik);

2. Strategi kognitif, mengatur “ cara belajar “ dan berpikir seseorang di dalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah;

3. Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi fakta. Kemampuan ini umumnya dikenal dan tidak jarang;

4. Ketrempilan motorik yang diperoleh di sekolah, antara lain Keterampilan menulis, mengetik, menggunakan media dan sebagainya;

5. Sikap emosional yang dimiliki seseorang, sebagaimana intensitas emosional yang dimiliki sesorang, sebagaimana dapat disimpulkan dari kecendrungannya bertingkahlaku terhadap orang, barang, atau kejadian.



Dalam rangka peningkatan hasil dari suatu proses belajar mengajar, maka pengelompokkan kondisi dan lingkungan belajar yang dikelompokkan GAGNE sangat bermanfaat bagi guru dalam menyesuaikan metode, dengan kondisi dan lingkungan belajar, penyesuaian metode belajar sesuai dengan materi pelajaran sangat berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar. Seperti pada pendidikan mata pelajaran IPA yang banyak berorientasi pada penumbuhan sikap ilmiah dan wawasan ilmiah serta Keterampilan proses sangat besar hubungannya dalam pemilihan metode dan hasil. Lingkungan anak menyediakan fenomena alam yang menarik dan penuh misteri, maka anak sebagai “young scientist“ (penelitian muda) mempunyai rasa ke ingin tahuan (curiosity) yang tinggi. Adalah keharusan bagi guru untuk menggunakan metode experiment dalam pendekatan pembelajaran demi membina keingintahuan anak. Memotifasinya sehingga mendorong siswa untuk mengajukan keragaman pertanyaan seperti “apa, mengapa dan bagaimana“ terhadap objek dan peristiwa yang ada di alam. Pada perkembangan lebih lanjut pertanyaan itu ditingkatkan menjadi pertanyaan yang menanyakan hubungan seperti “bagaimana“, sebagai hasil ekplorasi terhadap lingkungan siswa diharapkan membentuk dirinya dengan sikap seorang ilmuan muda. Selama melakukan berbagai kegiatan, perlu ditumbuhkembangkan kemampuan untuk menggunakan Keterampilan proses seperti mengajukan pertanyaan, menduga jawaban, merancang penyelidikan, melakukan percobaan, mengelola dan mengolah data, mengevaluasi hasil, dan mengkomunikasikan temuannya kepada beragam orang dengan berbagai cara yang dapat memberi pemahaman dengan baik.

Melalui pendekatan dan penggunaan metode eksperimen guru dapat menciptakan pembelajaran yang menantang sehingga melahirkan interaksi antara gagasan yang diyakini

siswa sebelumnya dengan suatu bukti baru dari hasil percobaan untuk mencapai pemahaman baru yang lebih saintifik melalui proses eksplorasi atau pengujian gagasan baru lewat sebuah percobaan, sudah barang tentu hal tersebut melibatkan beragam sikap ilmiah seperti mengharrgai gagasan orang lain, terbuka terhadap gagasan baru, berpikir kritis, jujur, kreatif, dan berfikir lateral (berpikir yang tak lazim, diluar kebiasaan, atau yang mungkin dianggap aneh), masalah yang dikemukakan diatas sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Roestiyah (2001:80) sebagai berikut :

Penggunaan teknik eksperimen mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri, sehingga siswa dapat berlatih dalam cara berpikir yang ilmiah (scientific thinking), dengan eksperimen siswa menemukan bukti kebenaran terhadap suatu teori yang dipelajari serta harus mampu menuliskan hasil percobaannya dan menyampaikannya ke kelas dan di evaluasi oleh guru.





Dengan demikian tehnik eksperimen merupakan metode belajar mengajar yang dapat menghasilkan pengalaman belajar dan meningkatkan motivasi bagi siswa.



2.2.1 Teori-Teori Dalam Belajar dan Pembelajaran

Dalam dunia pendidikan khususnya pada proses belajar mengajar para pendidik perlu menyadari akan pentingnya pemahaman terhadap hakikat belajar dan pembelajaran. Berbagai teori belajar dan pembelajaran seperti teori behavioristik, kognitif, kontruktivistik, humanistik, sibernetik, revolusi sosiokultural, dan kecerdasan ganda. Penting untuk dimengerti dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan konteks pembelajaran yang dihadapi. Sekedar memperjelas pengertiannya berikut ini kita kutip beberapa definisi :

1. Teori Deskriptif dan teori preskriptif

Bruner (dalam Degeng, 1997) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar deskriptif. Tujuan utama teori pembelajaran untuk menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan teori belajar menjelaskan proses belajar.Teori belajar menaruh perhatian terhadap bagaimana seseorang belajar, dan teori pembelajaran sebaliknya, yaitu menaruh perhatian terhadap seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Dengan kata lain, teori pembelajaran berurusan dengan pengontrolan variabel-variabel yang di terapkan dalam teori belajar agar memudahkan belajar.Teori dan prinsip pembelajaran yang deskriptif yaitu menempatkan metode pembelajaran sebagai variabel bebas dan hasil sebagai variabel tergantung, sedangkan teori-teori dan prinsip pembelajaran yang preskriptif menempatkan metode yang optimal sebagai variable yang diamati,jadi kondisi dan keadaan sebagai variabel bebas dan metode pembelajaran sebagai variabel tergantung.

Dari kutipan di atas secara singkat dapat di katakan bahwa teori pembelajaran preskriptif berisi seperangkat preskripsi guna mengoptimalkan hasil pembelajaran yang di inginkan dalam kondisi tertentu, sedangkan teori pembelajaran deskriptif berisi deskripsi mengenai hasil pembelajaran yang muncul dari akibat penggunaan metode tertentu dalam kondisi tertentu.



2. Pengertian belajar menurut pandangan teori Behavioristik

Menurut teori behavioristik ,belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon, dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang di alami siswa dalam bentuk kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara baru sebagai hasil interaksi dari stimulus dan respon.(Asri Budianingsih, 2004)

Berikut ini kita kutip beberapa pendapat tentang teori Behavioristik oleh beberapa tokoh Behavioristik.

a) Teori belajar menurut Thordike

Thordike (dalam Asri Budianingsih,2004:21) menyatakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan dan objek, atau hal lain yang dapat di tangkap melalui alat indra, sedangkan respon yaitu reaksi yang di munculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau tindakan. Dari definisi tersebut maka jelas perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan brlajar dapat berupa konkrit teramati, atau tidak konkrit yaitu tidak dapat di amati.

b) Teori belajar menurut Watson

Watson adalah seorang tokoh aliran Behavioristik yang datang sesudah Thordike. Menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon menurut Watson berbentuk tingkah laku yang dapat di amati dan dapat di ukur. Watson adalah seseorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat di ukur Hasilnya, karena hanya dengan cara demikianlah, perubahan-perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan kegiatan belajar dalam hidupnya.



c) Teori belajar menurut Clark Hull

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Clark Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walau respon yang akan muncul bermacam-macam bentuknya, teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah keluarnya teori Skiner. Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.



d) Teori Belajar Menurut Edwin Guthri

Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar . Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis, sebagaimanan dijelaskan oleh Clark, ia menjelaskan hubungan antara stimulus dan respon cendrung hanya bersifat sementara oleh karena itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus, agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap.



e) Teori belajar menurut Skinner

Skiner salah satu tokoh dalam teori Behavoristik yang dapat mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukan tokoh sebelumnya, karena ia dapat menjelaskan konsep belajar secara sederhana, menurutnya hubungan antara stimulus dan respon terjadi melalui interaksi dalam lingkungan, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, ia mengatakan respon yang diberikan oleh seseorang siswa tidaklah sederhana itu. Sebab Stimulus yang diberikan akan berinteraksi antara Stimulus tersebut dan akan mempengaruhi bentuk respon yang diberikan, demikian pula dengan respon yang dimunculkan akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya prilaku. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para toko Behavioristik, dapat kita ambil kesimpulan bahwa pandangan behavioristik tidak sempurna, karena kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walau mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama, karena pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang sama, ternyata mengalami prilaku yang beda terhadap suatu pelajaran. Pandangan ini hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati (Asri Budiningsih, 2004:25).



3. Pengertian Belajar Menurut Teori Kognitif

Teori belajar kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses yang sangat kompleks. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Berikut ini kita uraikan beberapa pandangan penganut teori kognitif.

a) Teori Perkembangan Piaget

Piaget adalah seorang tokoh psikologi Kognitif yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme genetik. Secara biologis pada perkembangan sistem syaraf. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang didefinisikan secara kuantitatif, ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kuantitatif



b) Teori Belajar Menurut Brunner

Jerume Brunner (1966) adalah seorang pengikut setia teori kognitif, khususnya dalam perkembang fungsi kognitif. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu ;

1) Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya;

2) Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal;

3) Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kegiatannya dalam berbahasa dan berlogika.



Sehubungan dengan pendapat diatas, maka guru harus mampu membina dan mengarahkan siswa dalam upaya memahami lingkungan dan objek-objek pendidikan dalam dunianya serta mampu mengkomunikasikannya melalui bahasa dan logika, karena mengingat siswa itu adalah seorang peneliti muda yang banyak berinteraksi dengan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.



c) Teori Belajar menurut Ausubel

Teori belajar yang ada selama ini masih banyak menekankan pada belajar asosiatif atau belajar menghafal, belajar demikian tidak bermakna bagi siswa, karena materi yang dipelajari tidak diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif. Struktur kognitif merupakan struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah kedalam suatu konseptual. Ketiga tokoh aliran kognitif diatas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut Piaget, hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara itu Bruner lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui aktifitas menemukan (discovery). Cara demikian akan mengarahkan siswa pada bentuk belajar induktif, yang menuntut banyak pengulangan. Berbeda dengan Bruner, Ausubel lebih mementingkan struktur disiplin ilmu. Dalam proses belajar lebih banyak menekankan pada cirri berpikir deduktif. Hal ini tampak dari konsepsinya mengenai Advance Organizer sebagai kerangka konseptual tentang isi pelajaran yang akan dipelajari siswa.



4. Pengertian Belajar Menurut Teori Humanistik

Menurut teori Humanistik, proses belajar harus dinilai dan ditunjukkan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Klob seorang ahli penganut aliran humanistik mengemukakan bahwa tahap terakhir dari peristiwa belajar adalah melakukan eksperimentasi secara aktif. Pada tahap ini seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan kedalam situasi nyata. Berpikir deduktif banyak dipraktekkan dalam menguji teori-teori serta konsep-konsep dilapangan. Ia tidak lagi mempertanyakan asal usul teori atau suatu rumus, tetapi ia mampu menggunakan teori atau rumus-rumus tersebut. Untuk memecahkan masalah yang dihadapinya yang belum pernah ia jumpai sebelumnya.

Proses belajar untuk memanusiakan manusia itu sendiri, memerlukan Keterampilan oleh si pelaksana proses belajar. Keterampilan tidak diartikan dan dibatasi secara sempit, dan keterampilan bukan hanya sekedar keterampilan kerja. keterampilan dalam maknanya yang luas diartikan sebagai keterampilan demi kehidupan dan penghidupan yang bermartabat dan sejahtera lahir dan batin. Keterampilan hidup inilah yang dalam kontek kependidikan perlu dimaknai dan diterjemahkan secara lebih rinci dan operasional agar dapat dilaksanakan dalam praktek pembelajaran di kelas (Santosa S. Hamijoyo, 2002; 3).



2.3 Metode Belajar Mengajar

Didalam proses belajar mengajar Dalam setiap situasi dan kondisi pendidikan yang tengah berlangsung diperlukan berbagai metode dan alat pendidikan. Strategi dan alat pendidikan merupakan faktor pendidikan yang sengaja dirancang dan dibuat dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (Zahara Idris, 1991:38)

1. Teknik Penyajian Pelajaran

guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efesien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasa disebut metode mengajar.

Untuk memenuhi salah satu kompetensi guru dalam sistem pendidikan modern, maka perlu diuraikan beberapa teknik penyajian pelajaran yang sesuai dengan materi ajaran. Untuk lebih memahami dan mendalami tentang arti dari teknik penyajian itu, berikut kita kutip penjelasan tentang teknik penyajian yang dikemukakan oleh Roestiyah N. K (2001:1) “Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang digunakan guru atau instruktur dalam menyajikan bahan pelajaran kepada siswa“.

Dalam kegiatan belajar mengajar, cara atau metode mengajar yang digunakan guru untuk menyampaikan informasi kepada siswa berbeda dengan cara yang ditempuh untuk memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, Keterampilan serta sikap. Metode yang digunakan untuk memotifasi siswa agar mampu menggunaka pengetahuannya dalam

memecahkan suatu masalah yang dihadapi atau untuk menjawab suatu pertanyaan akan berbeda dengan metode yang digunakan untuk tujuan berpikir dan mengemukakan pandapat sendiri dikalangan siswa. Berikut ini beberapa metode yang sesuai dengan materi dan ciri khas siswa sebagai peneliti muda (young scientist).

a) Inquary

Inquary merupakan suatu teknik pendekatan yang dilakukan oleh seseorang guru dalam menciptakan pembelajaran yang menantang, sehingga melahirkan interaksi antara gagasan yang diyakini siswa sebelumnya dengan suatu bukti baru untuk mencapai pemahaman barunya yang lebih saintifik melalui proses eksplorasi atau penyajian gagasan baru. Sudah barang tentu hal tersebut melibatkan beragam sikap ilmiah seperti, menghargai gagasan orang lain, terbuka terhadap gagasan baru, berpikir kritis, jujur, kreatif, dan berpikir lateral (berpikir yang tak lazim, diluar kebiasaan, atau yang mungkin dianggap aneh).

Lingkungan anak menyediakan fenomena alam yang menarik dan penuh misteri. Anak sebagai “Young Scientist” (peneliti muda) mempunyai rasa keingin tahuan (Curiousity) yang tinggi. Adalah keharusan dalam pendekatan pembelajaran untuk memelihara keingin tahuan anak, memotifasinya sehingga membentuk dirinya menjadi seorang ilmuan muda.

b) Konstruktifisme

Merupakan sebuah tehnik pembelajaran dalam membangun gagasan saintifik setelah peserta didik berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa dan informasi dari sekitarnya. Pandangan konstruktifisme sebagai pilosofis pendidikan Muktahir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai dengan Perguruan Tinggi memiliki gagsan/ pengetahuan sendiri tentang lingkungan dan peristiwa/gejala alam sekitarnya, meskipun gagasa/pengetahuan ini na’if atau kadang-kadang salah. Mereka senantiasa mempertahankan gagasan/pengetahuan na’ïf ini secara kokoh sebagai sesuatu kebenaran. Hal ini berlangsung karena gagasan-pengetahuan yang dimiliki peserta didik ini terkait dengan gagasan/pengetahuan awal lain yang sudah terbangun dalam wujud “schemata” (struktur kognitif) dalam benak siswa.

2.4 Metode Eksperimen

Karena kemajuan tehnologi dan ilmu pengetahuan telah masuk kesegala aspek kehidupan; maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. Begitu juga dalam dunia pendidikan, pada saat guru mengajar dikelas juga memerlukan tehnik eksperimen. Eksperimen merupakan salah satu cara mengajar, dimana siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, disampaikan dikelas dan dievaluasi oleh guru..



2.4.1 Tujuan Penggunaan Metode Eksperimen

Teknik penyajian pelajaran melalui eksperimen mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Guru hanya berperan sebagai pasilisator penyedia “Kondisi“ supaya proses belajar untuk memperoleh konsep yang benar dapat berlangsung dengan baik. Melalui metode ini siswa juga akan terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah (Scientific Thingking), sehingga siswa memperoleh kebenaran dari sesuatu teori yang sedang dipelajarinya.



2.4.2 Hal-Hal Dan Prosedur Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penggunaan Metode Eksperimen.

Roestiyah. N.K dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar (2001:81) mengatakan bahwa Agar penggunaan teknik eksperimen itu efisien dan efektif, perlu pelaksana memperhatikan hal-hal dan prosedur sebagai berikut :

a) Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi setiap siswa

b) Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih.

c) Dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan, maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka temukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.

d) Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih : Maka perlu diberi petunjuk yang jelas, karena selain memperoleh pengetahuan, pengalaman, serta keterampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu.

e) Perlu dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah kejiwaan, segi kehidupan sosial dan keyakinan manusia, kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat. Sehingga masalah itu tidak bias diadakan percobaan karena alatnya belum ada.

Bila guru akan melaksanakan suatu eksperimen perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut :

a) Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen, mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksperimen.

b) Kepada siswa perlu diterangkan pula tentang :

1 Alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan dalam percobaan

2 Agar tidak gagalan siswa perlu mengetahui variabel yang harus dikontrol ketat

3 Urutan yang akn ditempuh sewaktu eksperimen berlangsung.

4 Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja akan dicatat.

5 Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan berupa uraian, perhitungan, grafik dan sebagainya.

c) Selama eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen

d) Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan ke kelas : dan mengevaluasi dengan teks atau sekedar Tanya jawab.



2.4.3 Keunggulan Dan Kelemahan Metode Eksperimen

Teknik eksperimen ini kerap kali digunakan dalam proses belajar IPA. Terutama terhadap materi yang berkaitan dengan kebendaan dalam alam. Karena memeiliki keunggulan sebagai berikut :

a) Siswa akan terlatih dalam menggunakan metode ilmiah saat menghadapi masalah. Sehingga tidak mudah percaya kepada sesuatu yang belum pasti kebenarannya.

b) Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, hal ini sangat dikehendaki oleh pendidikan modern dimana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru.

c) Siswa dalam melaksanakan eksperimen disamping memperoleh limu pengetahuan, juga menemukan pengalaman praktis serta keterampilan dalam menggunakan alat percobaan.

d) Dengan eksperimen siswa membuktikan sendiri kebenaran suatu teori, sehingga akan mengubah sikap mereka yang tahayul, pristiwa yang tidak masuk akal.

Sedangkan kelemahan dari teknik eksperimen ialah sebagai berikut :

a) Tidak bisa digunakan untuk bermacam-macam materi pelajaran karena harus disesuaikan dengan masalah yang dipelajari.

b) Membutuhkan waktu, tempat dan prasarana pendukung yang lengkap.

c) Membutuhkan dana dalam pelaksanaan teknik eksperimen.

Agar pelaksanaan teknik eksperimen dalam kegiatan pembelajaran berjalan efektif maka perlu adanya alat-alat pendidikan yang memenuhi persyaratan proses pembelajaran biologi.



2.4.4 Alat-Alat Pendidikan Eksperimen

Dalam setiap situasi pendidikan yang tengah berlangsung diperlukan alat-alat pendidikan. Alat pendidikan merupakan faktor pendidikan yang sengaja dibuat dan digunakan demi pencapaian pendidikan. Menurut Langeveld dalam Zahara Idris (Pengantar pendidikan, 1991:38) mengatakan bahwa “Alat pendidikan ialah suatu perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.

a. Arti dan peranan sarana pendidikan

Sarana pendidikan ialah segala sesuatu yang dipergunakan pendidik dalam pelaksanaan pendidikan yang meliputi ruangan belajar, peralatan, dan media pendidikan.

Dewasa ini semakin dirasakan pentingnya sarana pendidikan dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan yang dirumuskan. Sarana pendidikan dipandang dapat membantu keberhasilan proses pendidikan serta mempermudah jalannya pendidikan, hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa pendidikan merupakan kegiatan komunikasi yang intinya tentang penyampaian dan pertukaran pesan pada peserta didik ( Lisma Jamal, 1991:39 ).

b. Media pendidikan dan peranannya

Salah satu jenis prasarana pendidikan, yaitu media pendidikan. Media pendidikan adalah perangkat lunak atau perangkat keras yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. Sadiman (2007:190) mengatakan bahwa “dalam tatanan pendidikan media pembelajaran dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu, pemanfaatannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas “.

Dalam merencanakan pemanfaatan itu guru harus mampu melihat tujuan yang akan dicapai, materi pelajaran yang akan mendukung tujuan tercapainya itu, media pelajaran yang dipilih haruslah sesuai dengan ketiga hal itu, yang meliputi materi dan strategi pembelajarannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Zahara Idris (1991:40) tentang peranan media pendidikan dalam proses belajar mengajar, antara lain:

1. Dapat mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta didik

2. Membangkitkan minat peserta didik

3. Mendorong rasa ingin tahu peserta didik sehingga merangsang kegiatan belajar, dan

4. Dapat mengatasi keterbatasan waktu dan tempat



Dari kutipan diatas kita dapat melihat seberapa pentingnya teknik dan media dalam mensukseskan tujuan pendidikan, keahlian dalam menggunakan metode dan media pendidikan merupakan suatu propesi yang harus dimiliki guru sesudah menempuh pendidikan keguruan sehingga ia menjadi seorang guru profesional dalam bidangnya.

c. Alat dan bahan eksperimen

Alat dan bahan dalam eksperimen biasanya harus disesuaikan menurut jenis percobaan. Seperti pada percobaan ini menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:

a. Gelas kimia

b. Lampu spartus

c. Dapur

d. kawat kasar

e. Penjempit

f. Cawan fetri

g. Alkohol

h. Daun percobaan

i. Larutan yodium



2.5 Eksperimen SACHS

Seorang ahli botani Jerman bernama Julius von Sachs pada tahun 1860 membuktikan bahwa pada fotosintesis terbentuk karbohidrat amilum. Adanya amilum dapat dibuktikan dengan pengujian menggunakan iodium, amilum dengan iodium memberikan warna hitam, amilum hanya terdapat pada bagian daun yang hijau atau kena sinar. Untuk melakukan percobaan ini pilihlah tanaman yang daunnya terkena cahaya matahari, tandai dua helai daun pada tanaman tersebut yang paling banyak terkena cahaya. Tutup salah satu daun tersebut dengan kertas timah (bekas bungkus rokok) dengan bantuan selotip. Daun yang satunya lagi dibiarkan terbuka. Biarkan daun-daun tersebut selama sehari.

Petiklah daun tadi pada siang hari (kurang lebih pukul 14. 00). Bukalah kertas timah yang menutupi daun. Celupkan kedua daun kedalam air mendidih sampai daun menjadi layu. Kemudian pindahkan daun tadi kedalam alkohol dan panaskan daun tadi hingga daun tidak berwarna pucat. Pindahkan keatas wadah Petridis atau pinggan. Tetesilah kedua daun tadi dengan larutan lugol atau iodium.



Gambar .1

Percobaan SACHS



Pada gambar diatas dijelaskan bahwa bagian daun yang tertutup sepanjang hari tidak mengandung amilum. Percobaan ini juga terkenal dengan nama uji iodium. Percobaan Sachs menunjukkan bahwa daun yang ditutupi kertas timah sepanjang hari tidak mengandung amilum sedangkan daun yang tidak ditutupi mengandung amilum.



2.6 Guru Sebagai Pelaksana Eksperimen

Dalam kegiatan proses belajar mengajar setiap guru terus menerus menguji hasil keputusan instruksionalnya, dengan melihat bagaimana siswa berprilaku sesudah mengikuti program pengajaran. Dengan menekankan bukti-bukti empiris, guru menjadi seorang guru empiriskus yang mampu mengadakan perbaikan secara sistematis, tetapi adapula guru yang ingin lebih jauh lagi dari pada itu, yaitu ingin menjadi pelaksana eksperimen. Amirul Hadi dkk (1992:129) menyatakan perbedaan antara guru empiriskus dan guru pelaksana eksperimen sebagai berikut :

Guru eksperimen menilai efektifitas keputusan-keputusan instruksionalnya berdasarkan prilaku siswa sesudah mengikuti program pengajaran, tetapi guru pelaksana eksperimen selain melakukan kegiatan tersebut, juga melaksanakan eksperimen kecil-kecilan dikelasnya guna menguji hipotesis-hipotesis dalam lingkungan yang relatif terkontrol.



Dari kutipan diatas kita dapat melihat, kalau guru empiriskus menilai ketetapan dari satu variabel instruksional tertentu yang ia rancang, sedangkan guru pelaksana eksperimen membandingkan kebaikan-kebaikan dari dua alternative variabel instruksional atau lebih untuk melihat variabel mana yang paling tepat. Guru merupakan suatu propesi yang memerlukan pendidikan khusus dan latihan khusus agar menjadi seorang petugas lapangan yang sungguh-sungguh profesional, guru harus menggunakan pendekatan sistematis terhadap pengajaran, seperti pemanfaatan hasil-hasil penelitian, dan melakukan sendiri penelitian eksperimen secara kecil-kecilan di kelasnya sendiri (Amirul Hadi, 1992:130).

1. Guru sebagai pemakai hasil penelitian

Setiap petugas lapangan yang terampil dalam suatu spesialisasi banyak mengetahui buku-buku dan laporan-laporan hasil penelitian bidang tersebut. Ia dapat membaca majalah-majalah khusus untuk mengetahui pikiran-pikiran terbaru dan prinsip-prinsip baru yang berdasarkan bukti nyata. Sayang begitu banyak guru tidak dapat membaca (dengan pemahaman yang elementer sekali pun) tentang laporan hasil penelitian, terutama karena mereka tidak bisa memahami bahasa teknis yang digunakan peneliti-peneliti pendidikan.

Selama pendidikan-pendidikan dalam jabatan, guru sangat diharapkan melengkapi pendidikannya dengan prosedur penelitian dan metodologi statistik. Dengan demikian mereka menjadi pemakai yang selalu tau akan hasil usaha peneliti-peneliti pendidikan. Guru yang berminat untuk belajar lebih banyak mengenai penelitian dan statistik dapat menambah pengetahuannya dengan mengikuti program gelar atau kursus tambahan, atau membaca buku-buku teks yang mudah dimengerti mengenai topik yang bersangkutan.

2. Guru sebagai penguji hipotesis

Guru dapat melakukan eksperimen kecil-kecilan dikelasnya sendiri, yaitu untuk menemukan hubungan antara suatu variabel instruksional (variabel bebas) dan tujuan instruksional yang dicapai oleh siswa (variabel terikat). Dalam mengadakan eksperimen dikelas, guru harus menggunakan desain penelitian yang cocok terhadap penilaian pengaruh dari suatu variabel bebas terhadap variabel terikat.



2.7 Konsep Fotosintesis

Untuk dapat melaksanakan aktifitas hidup, setiap organisme memerlukan energi. Energi tersebut diperoleh dari makanan. Tidak semua organisme dapat membuat makanannya sendiri. Organisme yang dapat membuat makanan sendiri disebut organisme autotrof. Semua tumbuhan hijau merupakan organisme yang tergolong autotrof.

Semua tumbuhan hijau memiliki zat hijau daun yang disebut klorofil. Adanya klorofil ini memungkinkan tumbuhan hijau dapat membuat makanan. Proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau disebut fotosintesis. Makanan yang dibuat tumbuhan hijau ini tidak hanya digunakan untuk dirinya sendiri, akan tetapi makanan tersebut juga digunakan oleh organisme yang tidak dapat membuat makanannya sendiri. Organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri disebut organisme heterof. Hewan dan manusia tergolong kedalam kelompok heterof. Untuk hidupnya, organisme heterof memperoleh makanannya dari organisme lain. Ada yang hidup sebagai saprofit dan ada pula yang hidup sebagai parasit. Berdasarkan jenis makanannya, ada organisme yang tergolong herbivore, karnivora dan omnivore



2.7.1 Pengambilan Zat Oleh Tumbuhan

Di dalam ekosistem, setiap makhluk hidup mutlak membutuhkan makanan yang merupakan sumber energi bagi makhluk hidup. Seperti telah diketahui, bahwa tumbuhan hijau dapat membuat makanan sendiri. Pada proses tersebut terjadi perubahan zat-zat anargonik menjadi senyawa organik. Untuk membuat makanan, tumbuhan memerlukan zat-zat yang diambil dari lingkungannya. Zat-zat yang diperlukan tersebut yaitu air, karbon dioksida (CO2), dan berbagai unsur hara yang diserap dari dalam tanah, zat ini masuk kedalam tubuh tumbuhan dengan cara yang berbeda-beda.

Air diserap oleh sel-sel epidermis akar dan diangkut dalam akar. Dari akar, air diangkut melalui suatu jaringan pengangkut yang disebut xilem. Jaringan zilem ini memanjang dari akar ke batang dan akhirnya ke tulang dan urat daun.

Karbon dioksida yang terdapat di atmosfir memasuki tubuh tumbuhan terutama melalui daun (stomata) yang terdapat di permukaan daun. Membuka dan menutupnya stomata diatur oleh mengembang dan mengerutnya sel-sel penutup yang mengelilingi stomata.

Unsur-unsur hara yang terdapat di dalam tanah diserap oleh akar. Unsur-unsur hara diserap oleh akar dalam bentuk ion-ion terlarut. Seperti halnya air, usnur-unsur hara ini bergerak melalui jaringan pengangkut. Pengangkut xilem menuju daun. Unsur-unsur yang diserap akar tumbuhan dari dalam tanah, yaitu nitrogen, sulfur, fosfor, kalium, dan magnesium. Unsur-unsur ini sangat diperlukan dalam jumlah besar. Adapun unsur besi, tembaga, kalsium, klor, seng, mangan, kobalt, molybdenum, diperlukan dalam jumlah kecil. Semua unsur tersebut merupakan unsur pokok yang dibutuhkan tumbuhan. Apabila kekurangan salah satu unsur tersebut, pertumbuhan tanaman dapat terganggu.



2.7.2 Proses Fotosintesis

Semua tumbuhan yang telah kita kenal, seperti tumbuhan berbunga, lumut, paku, dan ganggang adalah tumbuhan hijau yang mengandung klorofil. Adanya klorofil ini memungkinkan tumbuhan hijau dapat membuat makanan. Proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau disebut fotosintesis. Fotosintesis berasal dari bahasa Yunani. Foto yang berarti cahaya dan sintesis yang berarti pembentukan.

Fotosintesis hanya terjadi pada sel-sel yang mengandung pigmen hijau (klorofil). Klorofil banyak terdapat dalam daun. Daun merupakan dapur tempat pembuatan makanan pada tumbuhan. Pada sel-sel daun terdapat organel berbentuk butir-butir kecil yang disebut kloroplas. Didalam kloroplas terdapat pigmen berwarna hijau yang disebut klorofil. Klorofil berfungsi untuk menangkap cahaya matahari. Selanjutnya, energi cahaya ini digunakan tumbuhan untuk membuat makanan.

Pada tumbuhan lain, seperti jagung, tembakau dan rumput gajah, klorofilnya tidak hanya ditemukan pada daun. Pada tumbuhan ini, klorofil juga ditemukan pada batang. Ada juga klorofil yang terdapat pada buah muda seperti pada tomat dan anggur. Oleh karena itu, organ-organ tersebut mampu melakukan proses fotosintesis.

Fotosintesis merupakan proses perubahan bahan organik tertentu menjadi makanan. Untuk melakukan hal ini, tumbuhan membutuhkan energi cahaya. Secara normal, energi cahaya ini bersal dari cahaya matahari. Akan tetapi, tumbuh-tumbuhan dapat juga tumbuh di dalam rumah yang jauh dari cahaya matahari. Untuk melakukan fotosintesis tumbuhan ini dapat menggunakan cahaya dari lampu listrik.

Selain energi cahaya dan terdapatnya klorofil, tumbuhan membutuhkan air (H2O) dan karbon dioksida (CO2) untuk membuat makanan.

Dalam proses pembuatan makanan ini air yang diserap oleh akar dari tanah digabung dengan karbon dioksida yang diperoleh dari udara. Proses penggabungan ini didalam klorofil dengan bantuan energi cahaya dari penggabungan air dan karbon dioksida akan dihasilkan karbohidrat berupa gula. Proses inilah yang disebut fotosintesis.



2.7.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Fotosintesis

Pembuatan makanan melalui proses fotosintesis dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dalam dan faktor luar.

Berikut ini diuraikan faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis

1. Faktor yang mempengaruhi fotosintesis, antara lain kadar klorofil, keadaan morfologi daun, dan kedudukan daun terhadap cahaya. Faktor-faktor ini akan mempengaruhi penyerapan cahaya matahari.



2. Faktor luar yang mempengaruhi fotosintesis, diantaranya cahaya matahari, suhu, kadar CO2 di udara, kandungan air, kandungan oksigen. Serta kandungan mineral dan tanah.

a. Cahaya Matahari

Cahaya matahari sebagai sumebr energi untuk fotosintesis berpengaruh langsung terhadap laju fotosintesis. Cahaya juga berpengaruh terhadap membuka dan menutupnya stomata sehingga mempengaruhi persediaan CO2 didalam kloroplas.

b. Suhu

Suhu berpengaruh terhadap fotosintesis. Umumnya fotosintesis tidak dapat berlangsung pada suhu dibawah 5 oC. fotosintesis sangat efektif berlangsung pada suhu antara 25oC-30oC.

c. Karbon dioksida dan Air

Karbon dioksida dan air merupakan bahan dasar pembentuk karbohidrat. Semakin tinggi kadar CO2 dan air, kemapuan untuk berfotosintesis semakin meningkat. Turunnya kadar air dalam tumbuhan akan menyebabkan stomata menutup sehingga kemampuan untuk berfotosintesis menurun. Kemampuan untuk berfotosintesis akan menurun, jika kadar oksigennya tinggi.

d. Mineral

Kandungan mineral dalam tanah berhubungan dengan pembentukan klorofil, terutama magnesium (Mg) dan besi (Fe). Dengan demikian, kedua unsure tersebut dapat meningkatkan kecepatan fotosintesis.



2.7.4 Manfaat Fotosintesis Bagi Makhluk Hidup Lain

Pada tumbuhan hijau, makanan diperoleh melalui proses fotosintesis. Dengan fotosintesis, tumbuhan menghasilkan bahan makanan untuk kebutuhannya sendiri. Selain untuk kebutuhan sendiri, energi yang dihasilkan oleh tumbuhan dimanfaatkan juga oleh hewan herbivora maupun omnivora.

Disamping itu, hewan, manusia, dan tumbuhan membutuhkan oksigen. Oksigen tersebut berasal dari proses fotosintesis yang dilepaskan tumbuhan hijau. Oksigen diperlukan makhluk hidup untuk bernafas. Oksigen yang masuk ke tubuh akan digunakan untuk proses oksidasi makanan sehingga dihasilkan energi. Dengan demikian, fotosintesis ini sangat penting baik bagi tumbuhan itu sendiri maupun bagi organisme lain.





















BAB III

METODOLOGI PENELITIAN



3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 10 hari yaitu dari tanggal 17 sampai dengan 27 Maret 2009. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Peureulak yang terletak di Desa Leuge. Dengan jarak ± 150 Meter dari Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur.



3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas VIII (Delapan) SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009 yang berjumlah 288 orang yang terdiri dari 8 kelas dan terbagi atas 36 orang siswa dari masing-masing kelas.



3.2.2 Sampel Penelitian

Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi yang berada di kelas VIII2 dan VIII4 dengan jumlah siswa masing-masing kelas 36 orang. Jadi keseluruhan sampel berjumlah 72 orang siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tekhnik custer sampling. Selanjutnya penulis melakukan pemilihan terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan cara yang sama sehingga terpilih kelas VIII4 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII2 sebagai kelas kontrol.



3.3 Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan rancangan Randomized Control Group Pretest-posttest Design dari sebuah penelitian eksperimen yang dapat digambarkan sebagai berikut:

TABEL.1

RANCANGAN PENELITIAN

Kelompok Pretest Perlakuan Posttest

Kelompok Eksperimen

Kelompok Kontrol T1

T1 x

- T2

T¬2



Keterangan:

T1 : Pretest

T2 : Posttest

x : Diberikan perlakuan (disajikan dengan eksperimen)

- : Tidak diberikan perlakuan (disajikan tanpa eksperimen)



3.4 Langkah-langkah Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini penulis mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Merumuskan masalah

2. Melaksanakan observasi

3. Menetapkan populasi dan sampel penelitian

4. Menyusun Proposal

5. Mempersiapkan instrument penelitian

6. Mengurus surat izin penelitian

7. Mempersiapkan alat dan bahan penelitian

8. Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol secara acak

9. Memberikan pretest kepada kedua kelas, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai guna mengetahui kemampuan awal siswa kemudian dihitung meannya.



10. Melakukan penelitian dalam kegiatan belajar mengajar kepada dua kelas.

1 Kelas eksperimen diberikan perlakuan (disajikan dengan eksperimen)

2 Kelas kontrol tidak diberikan perlakuan (disajikan tanpa eksperimen)

12. Memberikan posttest kepada kedua kelas. Setelah kegiatan belajar mengajar dimulai. Guna mengetahui kemampuan akhir siswa dan dihitung meannya.

13. Menghitung perbedaan mean hasil kedua kelas terhadap pretest dan posttest

14. Mengumpul, menganalisa data dan menyusun laporan.



3.5 Variabel dan instrumen Penelitian

3.5.1 Variabel Penelitian

Variabel bebas dan variabel terikat dari judul penelitian "PENGARUH EKSPERIMEN SACHS PADA MATERI FOTOSINTESIS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PEUREULAK TAHUN AJARAN 2008-2009” sebagai berikut:

1. Variabel bebas adalah pengaruh eksperimen SACHS pada materi fotosintesis. Dikatakan variabel karena dalam ciri yang bersangkutan dapat dibedakan 2 kategori yaitu boleh ada dan boleh tidak

2. Variabel terikat adalah hasil belajar siswa kelas VIII disebut variabel karena siswa-siswi akan memperoleh jumlah skor yang berlainan dari hasil test.



3.5.2 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes. Tes merupakan seperangkat rangsangan (stimulus) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan dasar penetapan skor angka. Dalam peneliti an ini diberi pretest dan postest untuk mengetahui kemampuan awal dan kemampuan akhir dari proses pembelajaran.



a. Cara penskoran

Tes yang terdiri dari 25 butir soal akan diberi skor 1 untuk masing-masing soal yang dijawab benar, skor 0 akan diberikan bila soal dijawab salah. sehingga skor tertinggi yang mungkin di peroleh siswa adalah 25. skor ini akan di ubah kedalam nilai berskala 0-100 dengan rumus sebagai berikut :

NILAI = (Sudijono, 2007 : 318)

b. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat valid atau shahihnya suatu test. Tes sebagai insturmen dalam penelitian ini sebelum digunakan untuk mengumpulkan data, terlebih dahulu diuji coba dikelas VIII1 sebanyak dua kali dengan jarak waktu satu minggu. Untuk mengetahui apakah tes hasil uji coba sudah valid atau belum, peneliti menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut :

(Sudijono, 2007 : 181)



Keterangan :

rxy = Korelasi antara x dan y

N = Jumlah sampel

x = Uji coba pertama

y = Uji coba kedua

Kriteria pengujian sebagai berikut :

Jika rxy ≥ r (tabel) = maka tes valid

Jika rxy < r (tabel) = maka tes invalid
Dari hasil perhitungan validitas pada lampiran 2 diperoleh rxy = 0,914 sedangkan r tabel (0,05) = 0,325 dan r tabel (0,01) = 0,418 ; sehingga rxy lebih besar dari pada r – tabel dan disimpulkan bahwa tes tersebut mempunyai validitas yang tinggi dan dapat digunakan sebagai alat pengumpul data.
c. Reliabilitas
Tes yang digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini terlebih dahulu diuji coba ke reliabilitasnya pada kelas VIII1 SMP Negeri I Peureulak tahun ajaran 2008-2009, yang ditetapkan sebagai kelas uji instrument. Dalam penelitian ini, reliabilitas tes diuji dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson (KR-21), yaitu :

Dimana :
KR-21 = Koefesien reliabilitas tes
K = Jumlah butir item soal
1 = bilangan konstan
S2x = varians total
MX = Mean total (rata-rata hitung dari skor total)
Selanjutnya dalam pemberian interprestasi terhadap koefesien reliabilitas tes digunakan patokan sebagai berikut :
a. Antara 0,8 sampai 0,1= sangat tinggi
b. Antara 0,6 sampai 0,8 = tinggi
c. Antara 0,4 sampai 0,6 = cukup
d. Antara 0,2 sampai 0,4 = rendah
e. Antara 0,1 sampai 0,2 = sangat rendah (Arikunto, 1995 : 71)
Dari hasil perhitungan reliabilitas yang terdapat pada lampiran 3 diperoleh harga KR-21 sebesar 0,6 berarti tes hasil reliabilitas berada dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa syarat reliabilitas terpenuhi. Dengan terpenuhinya syarat tes baik dari segi validitas maupun reliabilitas maka tes tersebut dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian.


3.6 Metode Penelitian dan Tekhnik Analisa Data
3.6.1 Metode Penelitian
Untuk memudahkan penelitian ini, penulis menggunakan metode eksperimen, karena mengingat dari segi penggunaannya sangat tepat disebabkan metode tersebut terlibat langsung dengan objek dan masalah yang diteliti.

3.6.2 Tekhnik Analisa Data
Untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode eksperimen pada materi fotosinstesi terhadap hasil belajar siswa di analisa dengan menggunakan uji statistik t-student sebagai berikut:

Dimana:
t : t-test
x1 : Mean postest kelompok eksperimen
x2 : Mean postest kelompok kontrol
s : Simpangan baku
n1 : Jumlah objek kelompok eksperimen
n2 : Jumlah objek kelompok control












BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
Data hasil belajar siswa melalui eksperimen SACHS pada materi fotosintesis ditunjukkan oleh hasil penelitian yang berupa skor yang diperoleh siswa kelompok eksperimen dan kelompok control dari hasil pretest dan posttest.

4.1.1 Hasil Pretest kelompok Eksperimen
Hasil pretest kelompok eksperimen yang berupa skor terlebih dahulu dianalisis kedalam nilai berskala 0-100 sebagaimana disajikan pada lampiran 4, diperoleh sebagai berikut:
Skor tertinggi yang diperoleh : 80
Skor terendah yang diperoleh :16
Range (R) adalah : 80 - 16 = 64
Untuk membuat tabel distribusi frekuensi terlebih dahulu dihitung jumlah kelas dengan menggunakan rumus Empiris Sturges sebagai berikut:
Jumlah kelas interval (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 36
= 1 + 3,3 x 1,55
Jumlah kelas = 1 + 5,11 = 6,11 (6 atau 7 kelas)
Jadi yang diambil (K) = 7 kelas

Sedangkan untuk menentukan panjang kelas (i) dihitung dengan cara sebagai berikut:
Panjang kelas (i) = R/K
= 64/7
= 9,14
Jadi panjang kelas adalah 9 atau 10, dalam hal ini diambil (i) = 10.
Tabel distribusi frekuensi nilai pretest kelompok eksperimen disajikan dalam tabel 1 berikut ini:
TABEL 2
DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI PRETEST KELOMPOK EKSPERIMEN
Nilai Xi Fi di di2 Fidi Fidi2
16-25
16-35
36-45
46-55
56-65
66-75
76-85 20,5
30,5
40,5
50,5
60,5
70,5
80,5 3
5
5
7
6
5
5 -3
-2
-1
0
+1
+2
+3 9
4
1
0
1
4
9 -9
-10
-5
0
+6
+10
+15 27
20
5
0
6
20
45
Jumlah 36 7 123

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa N=36; Fidi=7; Fidi2 =123 dan Mean dugaan (MD) = 50,5
Mean (x) =
=
=
x = 52,44

Simpangan Baku (s) =
=
=
=
=
= 10 x 1,83
s = 18,3
Varians (s2) =
=
=
=
s2 = 347.53

4.1.2 Hasil Pretest Kelompok Kontrol
Hasil pretest kelompok kontrol yang berupa skor terlebih dahulu di analisis kedalam nilai berskala 0-100 sebagaimana disajikan pada lampiran 5, diperoleh sebagai berikut:
Skor tertinggi yang diperoleh : 76
Skor terendah yang diperoleh :16
Range : 76-16 = 60
Untuk membuat tabel distribusi frekuensi terlebih dahulu dihitung jumlah kelas dengan menggunakan rumus empiris Sturges sebagai berikut:
Jumlah kelas interval (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 36
= 1 + 3,3 x 1,55
= 1 + 5,11
Jumlah kelas = 6,11 (6 atau 7 kelas)
Jadi jumlah kelas 6 atau 7, dalam hal ini diambil 7 kelas.
Sedangkan untuk menentukan panjang kelas (i) dihitung dengan cara sebagai berikut:
Panjang kelas (i) = R/K
= 60/ 7
= 8,57
Jadi panjang kelas adalah 8 atau 9, dalam hal ini diambil (i) = 9
Selanjutnya disusun tabel distribusi frekuensi nilai pretest kelompok kontrol sebagaimana disajikan dalam tabel II sebagai berikut:

TABEL 3
DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI PRETEST KELOMPOK KONTROL
Nilai Xi Fi Di di2 Fidi Fidi2
16-24
25-32
34-40
43-48
52-56
61-64
70-72 20
28,5
37
45,5
54
62,5
71 6
4
5
7
7
4
3 -2,8
-1,8
-0,9
0
+0,9
+1,8
+2,8 7,84
3,24
0,81
0
0,81
3,24
7,84 -16,8
-7,21
-4,5
0
+6,3
+7,2
+8,4 47,04
12,96
4,05
0
5,67
12,96
23,52
Jumlah 36 -6,6 106,2

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa n = 36; Fidi = -6,6 ; Fidi2 = 106,2 dan Mean dugaan (MD) = 45,5
Mean (x) = MD + i
= 45,5 + 9
= 45,5 + (-1,65)
x = 43,85

Simpangan Baku (s) =
=
=
=
=
= 9 x 1,31
s = 11,79

Varians (s2) =
=
=
=
s2 = 242,97

4.1.3 Hasil Posttest Kelompok Eksperimen
Hasil posttest kelompok eksperimen yang berupa skor terlebih dahulu di analisis kedalam nilai berskala 0-100 sebagaimana disajikan pada lampiran 4, diperoleh sebagai berikut:
Skor tertinggi yang diperoleh : 92
Skor terendah yang diperoleh : 44
Range (R) : 92 – 44 = 48
Untuk membuat tabel distribusi frekuensi terlebih dahulu dihitung jumlah kelas dengan menggunakan rumus empiris Sturges sebagai berikut:
Jumlah kelas interval (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 36
= 1 + 3,3 x 1,55
= 1 + 5,11
Jumlah kelas = 6,11 (6 atau 7 kelas)
Jadi jumlah kelas 6 atau 7, dalam hal ini diambil 7 kelas.
Sedangkan untuk menentukan panjang kelas (i) dihitung dengan cara sebagai berikut:
Panjang kelas (i) = R/ K
= 48/ 7
= 6,8
Jadi, panjang kelas adalah 6 atau 7, dalam hal ini diambil (i) =7 kelas.
Selanjutnya disusun tabel distribusi tabel frekuensi nilai posttest kelompok eksperimen kedalam tabel 3 berikut ini:

TABEL 4
DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI POSTEST KELOMPOK EKSPERIMEN
Nilai Xi Fi di di2 Fidi Fidi2
44-51
51-58
58-65
65-72
72-79
79-86
86-93 47,5
54,5
61,5
68,5
75,5
82,5
89,5 5
7
5
3
8
6
2 -3
-2
-1
0
+1
+2
+3 9
4
1
0
1
4
9 -15
-14
-5
0
+8
+12
+6 45
28
5
0
8
24
18
Jumlah 36 -8 128

Berdasarkan tabel diatas, sudah dapat dilihat bahwa N = 36 ; Fidi = -8; Fidi2 = 128 dan Mean dugaan (MD) = 68,5

Mean dugaan (MD) = 69
Mean (x) = MD + i
= 69 + 7
= 69 + 7 (-0,22)
= 69 + -1,54
x = 66,96
Simpangan Baku (s) =
=
=
=
=
= 7 x 1,6
s = 13,09
Varians (s2) =
=
=
=
s2 = 176,71


4.1.4 Hasil Postest Kelompok Kontrol
Hasil posttest kelompok kontrol yang berupa skor, terlebih dahulu di analisis kedalam nilai berskala 0-100 sebagaimana disajikan pada lampiran 5, diperoleh sebagai berikut:
Skor tertinggi yang diperoleh : 84
Skor terendah yang diperoleh : 24
Range (R) : 84 – 24 = 60
Untuk membuat tabel distribusi frekuensi terlebih dahulu dihitung jumlah kelas dengan menggunakan rumus empiris Sturges sebagai berikut:
Jumlah kelas interval (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 36
= 1 + 3,3 x 1,55
= 1 + 5,11
Jumlah kelas = 6,11 (6 atau 7 kelas)
Jadi jumlah kelas 6 atau 7, dalam hal ini diambil 7 kelas.
Sedangkan untuk menentukan panjang kelas (i) dihitung dengan cara sebagai berikut:
Panjang kelas (i) = R/ K
= 60/ 7
= 68,57
Jadi, panjang kelas adalah 8 atau 9, dalam hal ini diambil dalam (i) = 9 kelas.
Selanjutnya disusun tabel distribusi tabel frekuensi nilai posttest kelompok eksperimen kedalam tabel IV berikut ini:


TABEL 5
DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI POSTEST KELOMPOK KONTROL
Nilai Xi Fi di di2 Fidi Fidi2
24-33
33-42
42-51
51-60
60-69
69-78
78-87 28,5
37,5
46,5
55,5
64,5
73,5
82,5 5
4
6
7
8
4
2 -3
-2
-1
0
+1
+2
+3 9
4
1
0
1
4
9 -15
-8
-6
0
+8
+8
+6 45
16
6
0
8
16
18
Jumlah 36 -7 109
Berdasarkan tabel diatas, sudah dapat dilihat bahwa N = 36 ; Fidi = -7; Fidi2 = 109 dan Mean dugaan (MD) = 55,5
Mean (x) = MD + I
= 55 + 9
= 55 + 9 (-0,19)
= 55 + -1,71
x = 57,21
Simpangan Baku (s) =
=
=
=
=
= 9 x 1,72
s = 15,48
Varians (s2) =
=
=
=
s2 = 249,10

4.1.5 Hasil Pengolahan Data Pretest Kelompok Eksperimen Dan Kelompok Kontrol
Dari pengolahan data hasil pretest kelompok eksperimen kelompok kontrol dapat disusun tabel V berikut ini:
TABEL. 6
HASIL PENGOLAHAN DATA PRETEST KELOMPOK EKSPERIMEN
DAN KELOMPOK KONTROL
Kelompok N Skor Tertinggi Skor Terendah X S S2
Eksperimen 36 80 16 52,44 18,3 347,53
Kontrol 36 72 16 43,85 11,79 242,97

Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kesamaan varians, sebagai berikut:
Dari tabel V diatas diperoleh:
Varians (S12) kelompok eksperimen adalah = 347,35
Varians (S22) kelompok kontrol adalah= 242,97
Pengujian terhadap kesamaan varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, digunakan rumus sebagai berikut:


= 1,430

Pada daftar F dapat dilihat bahwa harga F tabel (36)=2,17 sedangkan harga F hitung = 1,430 jadi harga F hitung < f tabel sehingga jelaslah bahwa kelompok itu berasal dari satu populasi yang sama (homogen) variansnya.
Dari hasil uji persyaratan diatas, ternyata sampel dari popupasi itu berdistribusi normal dan mempunyai homogenitas varians yang sama. Dengan demikian dapat dilakukan langkah-langkah selanjutnya.

4.1.6 Hasil Pengolahan Data Posttest Kelompok Eksperimendan Kelompok Kontrol
Dari pengolahan data hasil posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat disusun tabel VI sebagai berikut:

TABEL 7
HASIL PENGOLAHAN DATA POSTEST KELOMPOK EKSPERIMEN DAN KELOMPOK KONTROL
Kelompok n Skor Tertinggi Skor Terendah X S S2
Eksperimen 36 92 44 66,96 13,09 176,71
Kontrol 36 84 24 57,21 15,48 249,10

Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kesamaan varians, sebagai berikut:
Dari tabel VI diatas diperoleh:
Skor rata-rata hasil posttest eksperimen : 66,96
Skor rata-rata hasil posttest kontrol : 57,21
Varians hasil postest kelompok eksperimen dan kontrol : 9,75
Dengan demikian dapat di hitung perbedaan Mean hasil postesttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebagai berikut:
Perbedaan Mean 66,96 - 57,21 = 9,75.
Untuk membuktikan atau menunjukkan apakah perbedaan mean tersebut cukup besar untuk menolak dan menerima hipotesa alternative (Ha) dilakukan pengujian dengan menggunakan rumus t- student.

4.2 Pengujian Hipotesis
Pada bab pendahuluan telah ditetapkan Hipotesis Nihil (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha) sebagai berikut:
Hipotesis nihil (Ho): Tidak berpengaruh eksperimen sachs pada materi foto sintesis terhadap hasil belajar siswa kela VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009.
Hipotesis alternatif (Ha): Ada pengaruh eksperimen sachs pada materi fotosintesis terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009.
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan statistik t-tes dengan rumus sebagai berikut:

Dan S2 = (Sudjana, 1989 : 236)
Statistik t diatas berdistribusi student dengan dk = (n + n2 – 2)
Selanjutnya nilai-nilai yang terdapat pada tabel VI diatas disubtitusikan kedalam rumus-rumus tersebut sehingga diperoleh:

s2 =
s2 =
s2 =
s2 =
s2 = 212,905
s = 14,59






Sebelum mencari t-tabel, maka terlebih dahulu dicari derajat kebebasan (Db) sebagai berikut:
Db = (Nx + Ny) - 2
Db = (36 + 36) -2
Db = 72 - 2
= 70
Derajat kebebasan adalah 70 angka tersebut berada diantara 60 dan 120, tetapi angka tersebut lebih dekat 60 jadi Db = 60. Selisih Db tabel dan Db dihitung adalah 70-60 = 10
Pada tabel t diketahui untuk Db = 60 dan taraf signifikan 5% nilai t-tabel = 2,00 dan untuk Db 120 = 1,98. Selisih nilai antara Db 60 dan 120 = 2,00-1,98 = 0,02.
Jadi untuk Db 70 pada taraf signifikan 5%:
= 2,00 – ( x 0,02)

= 1,996
Maka nilai t-tabel untuk taraf signifikan 5% = 1,996
Sedangkan untuk Db 60 pada taraf signifikan 1%, nilai t-tabel = 2,66 dan untuk Db 120 = 2,661. selisih nilai antara Db 60 dan 120 = 2,66-2,661 = 0,05
Jadi untuk Db 70 pada taraf signifikan 1%
= 2,66 – ( x 0,05)
= 2,66 – 0,0083
= 2,651
Maka pada nilai t-tabel pada taraf signifikan 1% = 2,651
Pada tabel-t diketahui untuk Db 70 dan taraf signifikan 5%. Nilai t-tabel = 1,996 dan taraf signifikan 1% nilai t-tabel = 2,651 hal ini menunjukkan t-hitung > t-tabel, jadi t-hitung (3,34) berada diluar daerah penerimaan Ho, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Dari hipotesis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Ha yang menyatakan ada pengaruh Eksperimen SACHS pada materi fotosintesis terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009 dapat diterima.



4.3 Pembahasan

Dari hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh perlakuan eksperimen SACHS pada materi fotosintesismterhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009. hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terhadap hasil pretest dan posttest sebagai berikut:



- Pada kelompok ekperimen diperoleh mean nilai pretest = 52,44 dan mean nilai posttest 66,96. didapat perbedaan mean antara nilai pretest dan posttest adalah 66,96-52,44=14,52, berarti pada kelompok eksperimen yang diberikan percobaan menunjukkan peningkatan hasil belajar sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar sebesar 14,52.

- Pada kelompok control yang tidak diberikan percobaan diperoleh mean nilai pretest = 43,85 dan mean nilai posttest = 57,21. perbedaan mean kelompok control antara mean pretest dan posttest adalah 57,21-43,85 = 13,36. hal ini menunjukkan bahwa peningkatan hasul belajar sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar sebesar 13,36.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen (14,52) lebih tinggi daripada peningkatan prestasi belajar siswa kelompok kontrol (13,36) sehingga didapat selisih yang nyata antara sample eksperimen dan sample kontrol sebesar 14,52-13,36 = 1,16.

Pemberian percobaan pada materi ajaran dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang diberikan guru. Karena dengan percobaan siswa akan berhadapan langsung dengan masalah yang dipelajari.

























BAB V

PENUTUP



5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang arah eksperimen SACHS pada materi fotosintesis terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009 dapat disimpulkan bahwa:

5.1.1. Ada pengaruh dari Eksperimen SACHS pada pembelajaran materi fotosintesis terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Peureulak Tahun Ajaran 2008-2009.

5.1.2. Hasil belajar siswa pada pembelajaran materi fotosintesis dengan diberikan Eksperimen SACHS dalam kegiatan belajar mengajar lebih besar = 14,52 daripada hasil belajar siswa yang tidak diberikan Eksperimen SACHS dalam kegiatan belajar mengajar yaitu 13,36 sehingga didapat selisih = 1,16.



5.2 Saran-saran

5.2.1 Karena Eksperimen SACHS pada materi fotosintesis dapat meningkatkan hasil belajar siswa, maka penulis menyarankan kepada guru mata pelajaran Biologi agar dapat melakukan dan memberikan Eksperimen SACHS dalam menyajikan materi fotosintesis.

5.2.2 Karena dari hasil penelitian pemberian Eksperimen SACHS dapat meningkatkan hasil belajar siswa, maka penulis menyarankan agar guru dapat mengarahkan dan



membiasakan siswa untuk melakukan Eksperimen SACHS pada materi fotosintesis

5.2.3 Kepada rekan-rekan mahasiswa agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh Eksperimen SACHS dalam kegiatan belajar mengajar terhadap peningkatan dan perbaikan mutu pendidikan di masa yang akan datang.

















DAFTAR PUSTAKA



Budiningsih (2004). Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rhineka Cipta



Degeng, (1997). Pandangan Behavioristik Vs Konstruktivistik, Pemecahan Masalah Belajar Abad XXI. Malang: Makalah Seminar TEP.



Dinas Pendidikan Prov. NAD, (2005). Cerdas Biologi. Bandung: Grafindo Media Pratama.



Hadi, Amirul, (1998). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Aksara



___________, (1992). Teknik mengajar secara sistematis, Jakarta: Rhineka Cipta



Idris, Zahara dan Lisa Jamal, (1991). Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia



Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, (1983), Organisasi dan Tata Lembaga Pendidikan, Jakarta: Dekdikbud



Newbery, (1985). Dalam Skripsi Dian Fitria (2005). Peranan Laboratorium Terhadap Hasil Belajar Siswa. Skripsi Tidak Diterbitkan, Langsa: FKIP Unsam



Poerbakawatja, Soegarda dan Harahap, (1980). Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta MCNL VXXII: Gunung Agung.



Popham, James dan Eva L. Baker (1992). Teknik Mengajar Secara Sistematis. Terjemahan Oleh Aminul Hadi dkk, dari astablishing instruksional Gools dan Systematic Instruction (Tanpa Tahun). Jakarta, Rhineka Cipta.



Purwanto, Ngalim, (1994). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya



Rosetiyah, (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rhineka Cipta



Sadiman, (2007). Media Pembelajaran. Jakarta: Rhineka Cipta.



Santosa S, Hamijoyo, (2002). Keterampilan Hidup. Jakarta: Rhineka Cipta



Sudijono, Anas, (2007). Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada



Sudjana, (1989). Metode Statistik, Bandung: Tarsito





Lampiran 1

LEMBARAN PRITES DAN POSTEST



Mata Pelajaran : Biologi

Kelas/Semester : VII/II

Waktu : 60 menit



Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap paling benar !



1. Semua tumbuhan hijau bersifat autotrof karena mampu…

a. Menyediakan makanan bagi makhluk hidup lain

b. Mengambil zat-zat yang diperlukan dari lingkungan

c. Membuat makanan sendiri

d. Mengubah zat organik menjadi zat anorganik



2. Suatu zat yang berasal dari lingkungan diperlukan oleh tumbuhan hijau ialah …

a. Air dan korban dioksida

b. Zat organik dan anorganik

c. Air, gas dan ion-ion terlarut

d. Air dan garam-garam



3. Korban dioksida yang terdapat diatmosfer, memasuki tubuh tumbuhan melalui…

a. Floem

b. Xilem

c. Stomata

d. Akar



4. Unsur hara yang diperlukan tumbuhan dalam jumlah besar adalah …

a. Unsur besi dan tembaga

b. Unsur kalsium dan seng

c. Unsur mangan dan kobal

d. Unsur nitrogen, sulfur, fosfor, kalsium, dan magnesium.



5. Bahan baku untuk fotosintesis adalah …

a. Air, karbondioksida dan klorofil

b. Air, dan garam mineral

c. Air dan karbon dioksida

d. Air karbondioksida klorofil dan cahaya matahari



6. Sumber energi yang diperlukan untuk foto sintesis adalah…

a. Suhu dan cahaya matahari

b. Air dan karbon dioksida

c. Cahaya matahari

d. Zat makanan yang terdapat didalam daun.



7. Fungsi klorofil dalam fotosintesis adalah …

a. Tempat berlangsungnya foto sintesis

b. Menyerap energi cahaya

c. Menggabungkan air dan Co2 menjadi karbohidrat

d. Mengubah energi cahaya menjadi energi kimia.





8. Hasil dari fotosintesis adalah……

a. Karbohidrat dan oksigen

b. Air dan karbondioksida

c. Karbohidrat, oksigen dan air

d. Karbohidrat dan karbondioksida



9. Pada proses fotosintesis dilepaskan oksigen yang berasal dari …

a. Udara hasil pernafasan.

b. Penggabungan gas Co2 dan molekul air

c. Pemecahan Co2 oleh energi cahaya

d. Pemecahan molekul air oleh energi cahaya.



10. Zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan ada yang di ambil dalam bentuk gas, zat tersebut adalah …

a. Nitrogen dan oksigen

b. Karbondioksida

c. Oksigen dan karbondioksida

d. Oksigen dan nitrogen



11. Klorosis pada tumbuhan di tandai dengan menguningnya daun dan batang tanaman. Gejal klorosis inidisebabkan tumbuhan kekurangan unsur…

a. Nitrogen dan fosfor

b. Nitrogen dan besi

c. Magnesium dan besi

d. Magnesium dan nitrogen



12. Unsur-unsur terpenting dalam pembentukan klorofil adalah …

a. Besi dan fosfor

b. Magnesium dan nitrogen

c. Nitrogen dan besi

d. Magnesium dan besi



13. Untuk mengetahui unsur-unsur yang dibutuhkan suatu tanaman yang dilakukan dengan …

a. Pemiaraan di air atau di pasir

b. Analisis abu

c. Pemberian pupuk tertentu pada tanaman

d. Menanam tanaman pada tanah yang subur.



14. Tanaman kantong semar memperoleh nitrogen dari …

a. Udara oleh bakteri rhizobium

b. Dalam tanah oleh akar tanaman.

c. Serangga yang dijebaknya

d. Makhluk hidup lain yang sudah mati.



15. Sel-sel yang mangandung pigmen hijau dan berfungsi sebagai tempat pembuatan makanan pada tumbuhan di sebut …

a. Mesofil

b. Klorofil

c. Stomata

d. Fotosintesis



16. Faktor dalam yang tidak mempengaruhi kecepatan fotosintesis adalah …

a. Kedudukan daun terhadap cahaya

b. Kadar klorofil

c. Bentuk morfologi daun

d. Usia tanaman



17. Hasil dari proses fotosintesis pada tumbuhan hijau yang dimanfaatkan langsung oleh hewan dan manusia berikut ini, kecuali …

a. Oksigen yang diperlukan untuk proses pernapasan.

b. Karbohidrat yang dimanfaatkan sebagai sumber energi.

c. Turunnya suhu lingkungan karena kadar Co2 diudara berkurang

d. Gula yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan



18. Tujuan penutupan daun dengan kertas timah terhadap cahaya matahari pada percobaan, adalah untuk membuktikan…

a. Terjadinya klorofil

b. Dihasilkannya oksigen

c. Adanya fotosintesis

d. Tidak terjadinya fotosintesis dan tidak terbentuknya amilum



19. Karbohidrat amilum yang terbentuk pada fotosintesis terjadi pada bagian …

a. Akar

b. Batang

c. Daun

d. Daun dan batang hijau yang terkena sinar matahari.



20. Warna daun yang ditutupi kertas ilmiah setelah ditetesi larutan lugol menjadi …

a. Kekuning-kuningan

b. Merah

c. Putih

d. Hitam





21. Warna daun yang terkena cahaya setelah ditetesi lugol menjadi …

a. Hitam

b. Merah

c. Putih

d. Kuning



22. Tujuan perebusan daun pada percobaan tersebut adalah …

a. Melarutkan klorofil

b. Menghilangkan klorofil

c. Memasak daun

d. Mematikan sel-sel daun



23. Tujuan pemberian alcohol pada percobaan tersebut adalah ….

a. karbohidrat Membunuh kuman yang terdapat dalam daun

b. Mematikan sel-sel daun

c. Mempercepat larutan klorofil

d. Menghasilkan



24. Untuk mengetahui adanya karbohidrat amilum sebagai hasil foto sintesis dapat diuji dengan …

a. Memasukkan daun ke alkohol panas

b. Menetesi daun dengan larutan lugol atau iodium

c. Daun dipanaskan dalam air mendidih sampai kayu

d. Menutup daun dengan kertas timah.



25. Tujuan dari percobaan SACHS adalah untuk membuktikan bahwa …

a. Terjadinya amilum pda daun yang tidak ditutupi dan tidak terjadinya amilum pada daun yang ditutupi.

b. Dihasilkan oksigen

c. Terbentuknya klorofil

d. Membutuhkan cahaya.



KUNCI JAWABAN

LEMBARAN PRITES DAN POSTEST





1. C 11. C 21. A

2. B 12. B 22. A

3. C 13. A 23. C

4. D 14. C 24. B

5. D 15. B 25. A

6. C 16. C

7. B 17. C

8. A 18. D

9. A 19. D

10. C 20. C

-

Relate Posts



0 comments:

Post a Comment

Popular Posts